Rabu, 23 Desember 2009

Bukan Salah Bunda

OlehMila Nurhida



Bret!
Aku melotot marah pada Nana, adikku. Majalah yang baru saja diantar oleh Mang Kano, si penjual Koran langganan kami, robek jadi dua. Tentu saja majalah itu robek, sebab kami memperebutkannya. Ketika aku akan memukulnya, Nana berlari sambil berteriak minta perlindungan pada Bunda.

“Arel, ada apa, sih?” Tanya Bunda yang tiba-tiba muncul di depanku. Nana langsung ngumpet di belakang Bunda. Ih, Bunda pasti akan menyalahkan aku. Bunda memang selalu begitu.

“Nana merobek majalah, Bunda,“ kataku menjelaskan. Aku berharap Bunda akan membelaku dan memerahi Nana.

“Nggak Bunda, Nana nggak merobek majalah. Nana Cuma mau lihat cergamnya sebentar, tapi nggak boleh sama kak Arel,“ jawab Nana membela diri. Ia masih berlindung di belakang Bunda.

“Arel, kenapa kamu melarang Nana membaca majalah?“ tanya Bunda langsung menyalahkan aku.

“Tuh kan, Bunda menyalahkan Arel lagi,“ kataku kesal. “Bunda jahat, selalu Nana yang dibela.“

“Arel, kok, Arel bilang Bunda jahat? Bunda nggak membela siapa-siapa. Bunda sayang sama kalian berdua. Bunda nggak mau kalian bertengkar. Kalian, kan, bersaudara.
Sesama saudara itu enggak boleh berantem,“ kata Bunda mencoba menenangkan aku.

Akh, tapi aku sudah terlanjur kesal. Aku langsung pergi, tidak mempedulikan apnggilan Bunda lagi. Aku keluar rumah dan pergi ke rumah Hamid, teman sekolahku yang berada di ujung jalan. Mungkin dengan bermain ke rumah Hamid aku nggak kesal lagi.

“Nama mereka Jalu dan Jala. Mereka kakak beradik,“ kata Hamid memperkenalkan dua ekor ayam dari bambu. Akh, aku kagum pada Hamid.

“Bagaimana kamu bisa membedakan antara Jalu dan Jala?“ tanyaku penasaran. Aku tidak melihat ada perbedaan diatara kedua ayam itu.

Hamid tersenyum sambil menaburkan makanan buat kedua ayamnya. “Gampang, kok, membedakan mereka, Rel!“ jawab Hamid sambil menangkap salah satu ayamnya. “Aku tahu ini Jalu, karena dia ayam yang kuat. Kalau makan, ia selalu ingin menang sendiri. Ia akan mematuk Jala, setiap kali aku memberi makan mereka. Ayam yang lebih tua pasti lebih kuat. Nah, jadi dialah Jalu, si kakak. Dan itu Jala, adiknya.“

“Oh...,“ aku manggut-manggut kagum.

“Aku sering kasihan melihat Jala,“ kata Hamid. “Dia jarang mendapat makanan, karena dikuasai oleh Jalu. Sebagai kakak, Jalu merasa dirinya lebih kuat. Padahal seherusnya dia mengelah pada jala, adiknya.“

“Oh, ya, seharusnya begitu,“ kataku menimpali.

Aku merasa seolah-olah Hamid sedang menyindir aku. Padahal aku yakin Hamid tidak bermaksud begitu. Hamid kan, tidak tahu, kalau aku sering bertengkar dengan Nana dan selalu ingin menang sendiri. Mungkin benar kata Hamid. Sebagai seorang kakak, seharusnya aku mengalah pada adik. Aku jadi ingat kejadian di rumah tadi, saat aku dan Nana rebutan majalah. Aku ingin membaca majalah terlebih dahulu, tanpa mempedulikan Nana yang ingin melihat cergam.

Sebagai kakak, seharusnya aku mengalah. Akh, tiba-tiba aku merasa bersalah dan ingin pulang untuk minta maaf pada Bunda. Tadi aku sudah menuduh Bunda membela Nana. Ini salahku. Aku tak mau jadi Jalu, ayam milik Hamid yang ingin menang sendiri. Aku kemudian pamitan pulang pada Hamid. Temanku itu heran melihat aku yang cepat-cepat pulang. Padahal biasanya aku bisa berlama-lama main di rumahnya.

“Ada masalah yang harus akus elesaikan,“ kataku pergi tanpa memperdulikan keheranan Hamid lagi. Aku hanya ingin cepat sampai di rumah menemui Bunda dan Nana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar