Sabtu, 19 Desember 2009

KISAH GOBY DI HARI MINGGU

KISAH GOBY DI HARI MINGGU
oleh Mila Nurhida

“Hei, kenapa mantelku belum selesai kamu jahit?” tanya Goby kurcaci, suatu pagi di hari Minggu.

“Aku sedang mengerjakan gaun Peri Bunga. Matelmu baru selesai dua hari lagi,“ sahut Ciko, si kurcaci penjahit.

Goby menggelengkan kepalanya. “Tidak bisa! Aku perlu hari ini juga. Nanti sore aku akan memakainya di pesta ulang tahun Golda.“

“Hm, baiklah,“ kata Ciko setelah berfikir sejenak. “Aku usahakan menyelesaikannya siang ini, tapi kamu harus membeyarnya 10 keping emas. Bukan 5 keping emas seperti biasanya. Bagaimana?“

“Huh, baiklah!“ Goby tak punya pilihan lain.

Goby pun kembali ke rumah jamurnya. Benar saja. Siang harinya Ciko mengantarkan mantel warna merah yang sudah selesai dijahit. Ciko tersenyum senang saat menerima sepuluh keping emas. Sementara Goby menggerutu karena harus membayar lebih mahal dari yang semestinya.

Hari Minggu menjelang sore. Goby menganakan mantel merah barunya, yang dipadu dengan celana dan baju warna hitam. Sepatunya merah lancip, dan mengkilap. Tetapi dia merasa ada sesuatu yang kurang dari penampilannya.

“Topi!” seru Goby. Ia pun segera mencari topi merah di dalam kotak topi-topinya. Topi merah tak juga ditemukannya. Yang ditemukannya hanya topi kuning, biru, hijau dan jingga. Tidak cocok dengan warna mantel dan sepatunya.

Goby kebingungan. Dia mencari sekali lagi di setiap pojok rumahnya, tapi topi merahnya seakan hilang. Karena hari sudah sore, Goby memutuskan membeli topi merah baru di kios topi seberang rumahnya.

‘’Cepatlah, aku perlu topi warna merah,’’ ujarnya terburu-buru. Moli si penjual topi tak segera menyodorkan topi yang diinginkan Goby.

‘’Topi warna merah hanya tinggal sebuah, tapi ini sudah dipesan oleh Toki. Dia akan segera mengambilnya,’’ kata Moli.

“Berapa harga topi itu?” Tanya Goby.

“Lima keeping emas,” jawab Moli.

“Aku berani bayar lebih,” kata Goby tak sabar.

“Bagaimana, ya.“ Moli menimbang-nimbang. “Begini saja. Topi merah untuk Toki bisa aku buatkan lagi besok. Tapi, sudah pasti aku akan dimarahinya. Oleh karena itu, kau harus bayar 10 keping emas untuk topi merah ini.“ Sesaat kemudian, Goby sudah berjalan menuju rumah Golda. Wajahnya tampak kesal karena harus membayar topi merah lebih mahal dari seharusnya.

Di tengah perjalanan, goby bertemmu dengan Zeto yang menenteng topi merah. Goby merasa mengenal dengan topi merah itu.

“Hei, bukankah itu topi merah milikku?“ tanya Goby.

“Betul, kemarin kan, kau menyuruhku menjahitnya, karena ujungnya sobek. Aku baru mau mengantarkannya ke rumahmu,“ jawab Zeto sambil menyerahkan topi itu. “Ongkosnya 3 keping emas,“ lanjut Zeto tersenyum. Goby pun segera membayarnya.

Goby melanjutkan perjalanannya. Dia tak habis pikir kenapa dia bisa lupa dengan topi merahnya yang robek itu.

Ketika hampir tiba di rumah Golda, Goby mampir ke kios buah-buahan. Ia berencana membelikan Golda hadiah ulang tahun sekeranjang srawberry seharga lima keping emas. Ternyata si penjual kehabisan srawberry.

“Hanya tinggal sekeranjang blueberry, harganya 10 keping emas.”
“Ya, sudah. Aku ambil blueberrynya,” kembali Goby membayar lebih mahal dari yang diinginkannya.

Tak lama kemudian Goby tiba dipekarangan rumah Golda. Goby mengerutkan dahinya, kenapa suasananya begitu sepi? Tak terdengar kemeriahan pesta ulang tahun dari dalam rumah itu. Pintu rumah Golda yang oval nampak tertutup. Jendela-jendelanya yang berbentuk bintang hanya terbuka sedikit.

Perlahan Goby menghampiri pintu rumah Golda. Tangan kanannya mengetuk pintu dengan ragu, hatinya merasa tak nyaman.

Pintu oval terbuka. Golda pun muncul hanya dengan pakaian rumah.
“Hai, Goby, masuklah. Aku sedang merangkai bunga,” ajak Golda.
“Mm...tapi... pesta ulang tahunmu, sore ini kan?“ tanya Goby terbata.
Golda terbelalak melihat dandanan Goby, dengan mantel merah dan topi barunya. Juga sekeranjang blueberry di tangnnya.

“Aduh, Goby. Kau kurang teliti membaca kartu undanganku. Ulang tahunku kan masih hari Minggu depan, bukan hari Minggu sekarang.“ Golda tak tak tahan menahan tawanya.
Tiba-tiba Goby merasa kepalanya pusing. Tubuhnya terhuyung-huyung, lalu jatuh pingsan dihadapan Golda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar