Senin, 28 Desember 2009

Konsep Ziarah

Ziarah disunahkan oleh Nabi, bahkan dianjurkan untuk ummat Islam mengunjungi (ziarah) ke kubur orang tua, atau keluarga yang sudah lebih dhulu meninggalkan kita. Ziarah dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran agar kita yang hidup selalu ingat bahwa suatu saat kita juga akan mati. Ketika kematian datang, tidak ada seorangpun yng menolong kita, kecuali tiga perkara:

1) Shodaqoh jariyah, yakni amal sodaqoh yang kita berikan dengan ikhlas, semata-mata karena Allah. Shodaqoh kita untuk masjid, musholla, madrasah atau lebaga sosial lainnya, akan mengalirkan pahala kepada kita selama kita berada dalam kibur, sehingga kita memperoleh nikmat kubur.

2) Ilmu yang bermanfaat, yang pernah kita ajarkan kepada orang lain, dan ilmu itu digunakan sesuai kepentingan yang baik, maka pahalanya akan datang kepada ahli kubur, sehingga bisa meringankan siksa kubur serta mengurangi dosa-dosa kita.

3) Anak Sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya, sehingga ahli kubur terhindar dari azab kubur, berkat doa anak-anak soleh yang terus mengalir selama berada di alam kubur.

Ziarah kubur disunnahkan oleh Rasulullah juga dengan maksud untuk mendoakan ahli kubur. Bukan malah sebliknya, para peziarah meminta-minta kepada ahli kubur. Kasihanilah mereka yang berada dalam kubur, secara religi sedang menghadapiu proses pertanggungjawaban dihadapan malaikat Munkar dan nakir atas amal perbuatannya, yang belum tentu diterima. Sementra itu kita yang hidup justru merepotkan mereka dengan meminta-minta berkah dan syafaatnya. Alangkah indahnya ajaran ziarah yang dianjurkan oeh Nabi, jika kita bisa melaksanakan sesuai tuntunan agama. Sangat disayangkan jika kita berbuat kelitu, hanya krena kurang yakin dan percaya kepada llah yang maha mendengar doa, serta akan mengabulkan setiap permohonan, tetapi kita sendiri malah menyimpang meminta-minta kepda selain Allah. Dalam pandangan islam, semua manusia di hadapan allah mempunyi kedudukan yang sama, termasuk para nabi dan para Rasul, apalgi wali tau kyai (La Nufarriqu baina hadain min rusulih). Yang membedakan diantara kita hanyalah siapa yang paling taqwa. Dan rahasia taqwa itu hanya Allah yang mengetahui.

Kita diberi kesempatan untuk berdoa secara langsung (ud’uni astajib lakum= berdoalah kepadaku niscya akan Aku kabulkan). Apabila ada hamba allah yang bertanya tentang Allah, maka jawablah bahwa Allah sangat dekt, dekat sekali. Allah akan kabulkan setiap permohonan dari orang yang langsung meminta kepada Nya. Barangkali berbeda dengan manusia, jika diminta terus menerus, suatu saat akan bosan juga. Tetapi Allah sebaliknya, justru berharap agar manusia selalu memohon setiap saat kepada Allah. Jka ada permohonan atau doa kita belum dikabulkan Allah, mungkin ada rahasia yang Allah belum bukakan kepada kita. Ada kalanya Allah mengabulkan doa karena memang layak dikabulkan. Atau mungkin do kita belum dikabulkan, karena Allah sayang dan belum berkenan melihat situasi dan kondisinya.paling tidak ada dua syarat untuk berdoa agar dikabulkan oleh Allah: 1) berdalah kepada Allah dengan khusu’, penuh rasa khawatir kalau-kalau do’a kita tidak terkabul. Karena rasa khawatir itu, maka kita meminta kepada allah dengan sangat hati-hati, sesopan mungkin (Us;u rabbakum khasyyatan wa khiifatan). 2) Berdoalah kepada Allah, diam-dim , sembunyi-sembunyi, cari waktu yang sunyi dan sepi, sehingga seakan yang ada hanya kita dan Dia. Itu sebabnya maka orang yang rajin bangun malam hari, melakukan shalat tahajud atau hajat, akan mempunyai peluang permohonannya dikabulakn oleh Allah. Saat orang tertidur lelap, justru da orang terbangun dan mendekt, kemudian memohon kepada allah. Hatinya akan menjerit mengadukan nasibnya, sehingga mengalir air mata, tanda dia butuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar