Senin, 28 Desember 2009

Konsep Ziarah

Ziarah disunahkan oleh Nabi, bahkan dianjurkan untuk ummat Islam mengunjungi (ziarah) ke kubur orang tua, atau keluarga yang sudah lebih dhulu meninggalkan kita. Ziarah dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran agar kita yang hidup selalu ingat bahwa suatu saat kita juga akan mati. Ketika kematian datang, tidak ada seorangpun yng menolong kita, kecuali tiga perkara:

1) Shodaqoh jariyah, yakni amal sodaqoh yang kita berikan dengan ikhlas, semata-mata karena Allah. Shodaqoh kita untuk masjid, musholla, madrasah atau lebaga sosial lainnya, akan mengalirkan pahala kepada kita selama kita berada dalam kibur, sehingga kita memperoleh nikmat kubur.

2) Ilmu yang bermanfaat, yang pernah kita ajarkan kepada orang lain, dan ilmu itu digunakan sesuai kepentingan yang baik, maka pahalanya akan datang kepada ahli kubur, sehingga bisa meringankan siksa kubur serta mengurangi dosa-dosa kita.

3) Anak Sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya, sehingga ahli kubur terhindar dari azab kubur, berkat doa anak-anak soleh yang terus mengalir selama berada di alam kubur.

Ziarah kubur disunnahkan oleh Rasulullah juga dengan maksud untuk mendoakan ahli kubur. Bukan malah sebliknya, para peziarah meminta-minta kepada ahli kubur. Kasihanilah mereka yang berada dalam kubur, secara religi sedang menghadapiu proses pertanggungjawaban dihadapan malaikat Munkar dan nakir atas amal perbuatannya, yang belum tentu diterima. Sementra itu kita yang hidup justru merepotkan mereka dengan meminta-minta berkah dan syafaatnya. Alangkah indahnya ajaran ziarah yang dianjurkan oeh Nabi, jika kita bisa melaksanakan sesuai tuntunan agama. Sangat disayangkan jika kita berbuat kelitu, hanya krena kurang yakin dan percaya kepada llah yang maha mendengar doa, serta akan mengabulkan setiap permohonan, tetapi kita sendiri malah menyimpang meminta-minta kepda selain Allah. Dalam pandangan islam, semua manusia di hadapan allah mempunyi kedudukan yang sama, termasuk para nabi dan para Rasul, apalgi wali tau kyai (La Nufarriqu baina hadain min rusulih). Yang membedakan diantara kita hanyalah siapa yang paling taqwa. Dan rahasia taqwa itu hanya Allah yang mengetahui.

Kita diberi kesempatan untuk berdoa secara langsung (ud’uni astajib lakum= berdoalah kepadaku niscya akan Aku kabulkan). Apabila ada hamba allah yang bertanya tentang Allah, maka jawablah bahwa Allah sangat dekt, dekat sekali. Allah akan kabulkan setiap permohonan dari orang yang langsung meminta kepada Nya. Barangkali berbeda dengan manusia, jika diminta terus menerus, suatu saat akan bosan juga. Tetapi Allah sebaliknya, justru berharap agar manusia selalu memohon setiap saat kepada Allah. Jka ada permohonan atau doa kita belum dikabulkan Allah, mungkin ada rahasia yang Allah belum bukakan kepada kita. Ada kalanya Allah mengabulkan doa karena memang layak dikabulkan. Atau mungkin do kita belum dikabulkan, karena Allah sayang dan belum berkenan melihat situasi dan kondisinya.paling tidak ada dua syarat untuk berdoa agar dikabulkan oleh Allah: 1) berdalah kepada Allah dengan khusu’, penuh rasa khawatir kalau-kalau do’a kita tidak terkabul. Karena rasa khawatir itu, maka kita meminta kepada allah dengan sangat hati-hati, sesopan mungkin (Us;u rabbakum khasyyatan wa khiifatan). 2) Berdoalah kepada Allah, diam-dim , sembunyi-sembunyi, cari waktu yang sunyi dan sepi, sehingga seakan yang ada hanya kita dan Dia. Itu sebabnya maka orang yang rajin bangun malam hari, melakukan shalat tahajud atau hajat, akan mempunyai peluang permohonannya dikabulakn oleh Allah. Saat orang tertidur lelap, justru da orang terbangun dan mendekt, kemudian memohon kepada allah. Hatinya akan menjerit mengadukan nasibnya, sehingga mengalir air mata, tanda dia butuh.

Burung yang Sombong

Oleh Mila Nurhida

Ada seekor burung yang cantik, suaranya sangat indah dan merdu, akan tetapi dia amat sombong dan semena-mena. Setiap pagi dia terbang kesana kemari sambil berkicau seola memamerkan bulu-bulunya yang indah dan suaranya yang merdu, setelah bosan dia mencari makan. Makanan kesukaanya adalah semut, menurutnya dengan memakan semut suaranya menjadi merdu. Banyak semut yang telah disantapnya, sehingga Raja Semut dan rakyatnya berencana untuk memberi pelajaran pada Burung yang sombong itu.

Suatu hari di atas sebuah dahan, seekor Semut mengedakan perjanjian dengan si Burung sombong tersebut.

‘’Percayalah! Besok aku akan mendatangkan teman-temanku kesini, asal kamu tidak memakanku hari ini’’ kata Semut meyakinkan Burung.

‘’Lalu bagaimana jika kamu gagal membujuk mereka hari ini’’ tanya Burung.

‘’Jangan cemas!, aku punya cara sendiri, aku akan mengatakan pada Rajaku, bahwa besok Dewi Hutan akan membegikan makanan keselamatan pada Semut-semut di tempat ini, dengan begitu Raja akan memerintahkan seluruh rakyatnya untuk kesini, mudahkan! Jawab Semut.

“Ehm… oke juga akal bulusmu! Lalu bagaimana jika aku dating, kemudian mereka berlari ketakutan dan menyelamatkan diri?” si Burung masih meragukan.

“Gampang sekali, hinggaplah kamu di dahan sana, kemudian menyanyilah semerdu mungkin , laksana nyanyian Dewi Hutan, teman-temanku pasti akan tertidur dengan sendirinya,“ kata Semut. Burung berfikir sejenak, kemudian dia menyetujuinya dan terbang berlalu.

Keesokan harinya, para Semut berkumpul di tempat yang di janjikan. Akan tetapi Raja Semut bersembunyi di balik dahan yang akan dihinggapi Burung. Tak lama kemudian Burung dating. Seperti yang telah direncanakan, dia bernyanyi semerdu mungkin, begitu lama dia bernyayi, namun Semut-semut belum juga tertidur, mereka menari dan terus menari. Sepertinya Burung mulai kehabisan tenaga, namun dia berusaha bernyanyi semerdu-merdunya. Setelah Burung terlihat agak lemah, Raja Semut member isyarat pada rakyatnya untuk menari-nari di tubuh Burung dan menggingitnya. Rakyat Semut melaksanakannya, mereka mengerumuni dan menggigit tubuh Burung. Si Burung menjerit-jerit kesakitan. Ia memohon agar para Semut menghentikan gigitannya dan beramai-ramai turun dari tubuh si Burung yang mulai melemah. Para Semut sangat genbira, mereka merayakan kemenangannya dan menyuruh si Burung agar cepat-cepat pergi meninggalkan daerah Semut.

Bukit ke Tiga Belas

Oleh Mila Nurhida

Ajo tidak punya sepatu. Kepalanya dicukur gundul supaya tidak ada kutunya. Hidungnya ingusan. Pakaiannya using. Setiap pagi, ia selalu berkelahi dengan saudara-saudaranya, berebut seragam sekolah. Bila menang, ia ke sekolah memakai baju seragam. Bila kalah, ia telanjang dada.

Ajo berumur delapan tahun. Ia tidak sabar untuk tumbuh dewasa. Ia ingin menjadi tentara. Pergi bertugas ke tempat-tempat yang jauh. Ajo sangat suka berkelana. Ia sering bolos sekolah untuk menjelajahi sungai-sungai dan bukit-bukit yang banyak terdapat di desa kami.

Ajo bilang, aku sahabatnya.

‘Mengapa kau menganggapku demikian ?’ tanyaku heran.

Ajo bilang, karena aku baik hati. Aku sering memberikan bekal makan siangku kepadanya. Sebenarnya, aku tidak sebaik itu. Setiap hari Ibu membuatkanku bekal makan siang yang berbeda. Kalau aku tak suka bekalku, kuberikan saja pada Ajo. Namun kalau aku suka, Ajo tidak kubagi. Aku jadi tidak enak karena Ajo menganggapku sahabat yang baik.

Aku menatap bolpoin logam kesayanganku, hadiah dari Ayah. Aku selalu menulis cerpen, pelajaran dan catatan harianku dengan bolpoin tersebut. Kuberikan bolpoint itu kepada Ajo, sebagai tanda persahabatan.

‘Tapi ini bolpint kesayanganmu !’ kata Ajo. ‘Aku tidak bisa menerimanya.‘
‘Kalau kau tidak mau, berarti kau bukan sahabtku,‘ kataku.

Maka Ajo pun bersedia menerimanya.
Ada empat belas bukit di desaku. Ajo telah mendaki dua belas diantaranya. Kini Ajo hendak mendaki bukit yang ke tiga belas. Biasanya dia mendaki seorang diri. Namun kali ini ia mengajakku.

‘Aku tidak mau bolos sekolah,‘ tolakku.

‘Kita akan mendaki hari Minggu.‘

‘Tiga belas adalah angka sial.‘

‘Kau anak pintar,‘ kata Ajo, ‘Kenapa masih percaya tahayul?‘

Aku menatap Ajo. ‘Bagaimana aku bisa mendaki bukit dengan keadaan seperti ini?‘

tanyaku sedih. Aku sakit dan tidak mampu lagi berjalan. Aku harus memakai kursi roda.

‘Aku akan menggendongmu,‘ kata Ajo. ‘Sampai ke puncak!‘.

‘Ayah dan Ibuku tidak akan mengijinkan,‘ kataku.

Sungguh di luar dugaan, ternyata kedua orang tuaku mengijinkan aku mendaki bersama Ajo. kami berangkat pada hari Minggu subuh. Ajo bilang, pemandangan di pagi hari lebih indah dari pada siang hari.

Ini adalah pendakian pertamanku. Dan mungkin satu-satunya pendakian yang kulakukan seumur hidupku.

‘Bukit apa yang kita daki ini?‘

‘Gunung Berjo,’ jawab Ajo.

‘Berjo bukan gunung,‘ sanggahku. ‘Tapi bukit.‘

Aku membaca banyak buku tentang gunung. Dengan penuh semangat, kubagi pengetahuanku kepada Ajo, sahabatku. Kuterangkan tentang gunung-gunung terkenal di dunia.
Kuceritakan tentang Danau Toba yang merupakan kawah gunung berapi purba. Kukisahkan tentang letusan gunung Krakatau yang abunya membuat langit mendung setahun lebih.

Sambil menyimak penjelasanku, Ajo terus mendaki. Aku digendongnya di punggung. Ia sangat kuat. Tidak sekalipun ia nampak kepayahan.

Akhirnya, kami tiba di puncak bukit. Ajo menurunkanku. Kami duduk di sebuah batu besar. Ajo benar. Pemandangan disini begitu indah. Matahari baru saja terbit.
Warnanya merah teduh. Cahayanya kuning lembut. Rumah-rumah dan pohon-pohon tampak terbendar keemasan. Udara terasa dingin. Namun, segar dan bersih. Hatiku sangat bahagia. Aku berterima kasih pada Tuhan.

‘Kau menangis!‘ seru Ajo panik. ‘Kau sakit? kau Sakit?‘

‘Tidak, tidak,‘ jawabku menenangkan Ajo. ‘Aku bahagia.‘ Ku tatap sahabatku. ‘Terima Kasih Ajo.‘

Sebulan berlalu sejak hari itu. Kini aku dirawat di rumah sakit. Ini adalah ke empat kalinya aku dirawat disana. Aku ditemani Ibu. Ayah masih dikantor. Untuk mengusir kebosanan, aku menulis cerita. Saat itu, aku dikejutkan oleh bunyi ketukan di jendela kaca. Ternyata Ajo. Ia memanjat jendelaku yang berada di lantai dua. Ibu membuka jendela agar Ajo bisa masuk.

‘Kanapa tidak lewat pintu?’ tanya Ibu.

‘Tidak bolah sama Satpam, Budhe,’ jawab Ajo.

‘Ya jelas tidak boleh,’ kataku, ‘Ini, kan, bukan jam menjenguk pasien.’

‘Pasien itu apa?’

‘Orang sakit yang dirawat di rumah sakit. Seperti aku.’ terangku.

Ibu menyuruh Ajo duduk di kursi di dekatku.

‘Kamu sedang menulis apa?’ Tanya Ajo.

‘Cerita. Saat kita naik bukit dulu.’

‘Sudah selesai ?’

‘Hampir,’ jawabku. ‘Kau yang menyelesaikannya, ya?’

‘Kenapa aku?’

‘Ini adalah cerita kita,’ terangku. ‘Jadi, ini ceritamu juga. Kau harus ikut bercerita…’

Namaku Ajo. Aku punya seorang sahabat. Namanya Hanum. Dia baik sekali padaku. Hanum sakit parah. Sangat parah. Tubuhnya jadi lemah. Lalu dia meninggal dunia.

Aku sedih sekali. Aku kehilangan seorang sahabat. Aku menangis saat pemakamannya. Aku menangis malam harinya. Aku menangis pagi harinya.

Lalu ayah dan ibu Hanum datang ke rumahku. Tapi, itu enam bulan sesudah Hanum meninggal. Jadi, aku tidak lagi menangis. Tapi, aku masih sedih.

Ayah dan Ibu Hanum berbincang-bincang dengan aku dan orang tuaku. Ayah dan ibu Hanum tidak punya anak lagi. Mereka ingin aku jadi anak angkat mereka. Aku bilang, aku mau. Ayah dan ibuku pun membolehkan.

Sekarang aku tinggal di rumah Hanum. Ayah dan ibu Hanum sangat sayang padaku. Aku sangat bahagia.

Inilah akhir dari ceritaku dan cerita Hanum. Aku sangat bahagia. Aku berdo’a, semoga Hanum pun berbahagia di alam sana.

Rabu, 23 Desember 2009

Bukan Salah Bunda

OlehMila Nurhida



Bret!
Aku melotot marah pada Nana, adikku. Majalah yang baru saja diantar oleh Mang Kano, si penjual Koran langganan kami, robek jadi dua. Tentu saja majalah itu robek, sebab kami memperebutkannya. Ketika aku akan memukulnya, Nana berlari sambil berteriak minta perlindungan pada Bunda.

“Arel, ada apa, sih?” Tanya Bunda yang tiba-tiba muncul di depanku. Nana langsung ngumpet di belakang Bunda. Ih, Bunda pasti akan menyalahkan aku. Bunda memang selalu begitu.

“Nana merobek majalah, Bunda,“ kataku menjelaskan. Aku berharap Bunda akan membelaku dan memerahi Nana.

“Nggak Bunda, Nana nggak merobek majalah. Nana Cuma mau lihat cergamnya sebentar, tapi nggak boleh sama kak Arel,“ jawab Nana membela diri. Ia masih berlindung di belakang Bunda.

“Arel, kenapa kamu melarang Nana membaca majalah?“ tanya Bunda langsung menyalahkan aku.

“Tuh kan, Bunda menyalahkan Arel lagi,“ kataku kesal. “Bunda jahat, selalu Nana yang dibela.“

“Arel, kok, Arel bilang Bunda jahat? Bunda nggak membela siapa-siapa. Bunda sayang sama kalian berdua. Bunda nggak mau kalian bertengkar. Kalian, kan, bersaudara.
Sesama saudara itu enggak boleh berantem,“ kata Bunda mencoba menenangkan aku.

Akh, tapi aku sudah terlanjur kesal. Aku langsung pergi, tidak mempedulikan apnggilan Bunda lagi. Aku keluar rumah dan pergi ke rumah Hamid, teman sekolahku yang berada di ujung jalan. Mungkin dengan bermain ke rumah Hamid aku nggak kesal lagi.

“Nama mereka Jalu dan Jala. Mereka kakak beradik,“ kata Hamid memperkenalkan dua ekor ayam dari bambu. Akh, aku kagum pada Hamid.

“Bagaimana kamu bisa membedakan antara Jalu dan Jala?“ tanyaku penasaran. Aku tidak melihat ada perbedaan diatara kedua ayam itu.

Hamid tersenyum sambil menaburkan makanan buat kedua ayamnya. “Gampang, kok, membedakan mereka, Rel!“ jawab Hamid sambil menangkap salah satu ayamnya. “Aku tahu ini Jalu, karena dia ayam yang kuat. Kalau makan, ia selalu ingin menang sendiri. Ia akan mematuk Jala, setiap kali aku memberi makan mereka. Ayam yang lebih tua pasti lebih kuat. Nah, jadi dialah Jalu, si kakak. Dan itu Jala, adiknya.“

“Oh...,“ aku manggut-manggut kagum.

“Aku sering kasihan melihat Jala,“ kata Hamid. “Dia jarang mendapat makanan, karena dikuasai oleh Jalu. Sebagai kakak, Jalu merasa dirinya lebih kuat. Padahal seherusnya dia mengelah pada jala, adiknya.“

“Oh, ya, seharusnya begitu,“ kataku menimpali.

Aku merasa seolah-olah Hamid sedang menyindir aku. Padahal aku yakin Hamid tidak bermaksud begitu. Hamid kan, tidak tahu, kalau aku sering bertengkar dengan Nana dan selalu ingin menang sendiri. Mungkin benar kata Hamid. Sebagai seorang kakak, seharusnya aku mengalah pada adik. Aku jadi ingat kejadian di rumah tadi, saat aku dan Nana rebutan majalah. Aku ingin membaca majalah terlebih dahulu, tanpa mempedulikan Nana yang ingin melihat cergam.

Sebagai kakak, seharusnya aku mengalah. Akh, tiba-tiba aku merasa bersalah dan ingin pulang untuk minta maaf pada Bunda. Tadi aku sudah menuduh Bunda membela Nana. Ini salahku. Aku tak mau jadi Jalu, ayam milik Hamid yang ingin menang sendiri. Aku kemudian pamitan pulang pada Hamid. Temanku itu heran melihat aku yang cepat-cepat pulang. Padahal biasanya aku bisa berlama-lama main di rumahnya.

“Ada masalah yang harus akus elesaikan,“ kataku pergi tanpa memperdulikan keheranan Hamid lagi. Aku hanya ingin cepat sampai di rumah menemui Bunda dan Nana.

Minggu, 20 Desember 2009

KISAH RAJA PENYU

KISAH RAJA PENYU


Oleh Mila Nurhida
Dahulu kala di sebuah telik di pantai Cilacap, hiduplah seekor Raja Penyu. Ia memerintahkan rakyatnya dengan penuh bijaksana. Rakyat Penyu pun hidup damai, rukun dan saling tolong menolong. Jika salah satu penyu mendapatkan makanan, maka akan ia bagikan kepada teman-temannya.

Pada suatu hari, ketentraman rakyat penyu terganggu oleh kedatangan salah seorang nelayan. Nelayan itu menjaring ikan di teluk tempat para penyu itu tinggal.
Pada suatu hari, nelayan berhasil menjaring beberapa ekor penyu. Betapa paniknya semua penyu yang berada di dalam jaring. Mereka sekuat tenaga berusaha untuk melepaslan diri dari jeratan jaring. Tapi usaha mereka gagal. Mereka pun menjerit-jerit ketakutan.

Di dalam jaring itu, ada Raja Penyu yang ikut tertangkap. Raja yang bijaksana itu segera menenangkan rakyatnya. Raja Penyu terkenal pandai dan banyak akal. Ia lalu berkata,

“Wahai rakyatku, kalian bersamaku. Maka tenanglah! Sekarang kita aman di dalam jaring yang dipasang oleh si Nelayan. Dia, kan, sudah pulang!”. Penyu-penyu yang tertangkap itu tetap gelisah.

“Tapi Raja.. besok, kan, si Nelayan akan dating lagi. Dia pasti akan membawa kita untuk dijual. Lalu.. kita akan dibunuh. Cangkang kita akan dijadikan perabotan kulit penyu,” ucap seekor penyu sambil menangis.

Raja Penyu tetap tenang.
“Tenanglah! Jika besok si Nelayan dating, kita haris berpura-pura mati. Kalau ia mengira kita sudah mati, ia tak akan membawa kita untuk dijual. Si Nelayan pasti akan membuang kita ke teluk ini lagi,” kata Raja Penyu.

Para penyu saling pandang kebingungan.
“Bagaimana caranya berpura-pura mati, Raja?” Tanya mereka

“Jika kita diangkat ke darat, jangan ada yang bernafas. Apa lagi bergerak! Andai si Nelayan terlalu lama tidak membuang kita, maka tunggulah aba-aba dariku untuk bersama-sama lari,” perintah Raja Penyu.

Keesokan harinya, si Nelayan dating memeriksa jaringnya. Betapa senangnya ia melihat hasil tangkapannya begitu banyak. Akan tetapi, ketika tiba di darat, si nelayan sangat kecewa. Ia melihat penyu hasil tangkapannya itu mati semua.

“Kenapa penyu-penyu ini bisa mati semua? Aku tak bisa menjulnya untuk hiasan kulit penyu,” keluh si nelayan sambil melangkah lesu.

Nelayan itu lalu duduk di pasir pantai dengan bingung. Tanpa sengaja, ia menduduki punggung raja penyu. Karena kaget, Raja Penyu pun tak sengaja berteriak keras. “Aduh!!”

Seketika rakyat penyu lari dari pasir menuju ke air laut. Mereka mengira itu adalah aba-aba dari Raja Penyu untuk lari.

Sang nelayan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tak sempat menangkap penyu-penyu yang sudah berlarian ke laut. Yang kini ia miliki hanyalah si Raja Penyu yang sedang didudukinya. Dengan sedikit kecewa, si nelayan membawa satu-satunya penyu itu ke pasar. Raj Penyu memiliki warna cangkang yang sangta indah. Gaya berenangnya pun sangat bagus di dalam akuarium sang nelayan. Seorang saudagar kaya akhirnya membeli Raja Penyu dar si nelayan.

Saudagar itu memasukkan Raja Penyu ke dalam akuarium indahnya di rumahnya. Setiap hari ia memberi makan makanan yang enak-enak untuk Raja Penyu. Akan tetapi Raja Penyu merasa tidak bahagia, karena ia tak punya teman. Ia juga merasa rindu pada rakyatnya.

Pada suatu pagi, Raja Penyu pura-pura mati. Ia mengambang di permukaan akuarium. Saudagar kaya itu sangat terkejut melihat penyu kesayangannya mengambang dan tak bergerak. Walau sedih, ia segera memanggil pembantunya.

‘’Cepat buang penyu ini ke laut ! supaya akuariumku ini tak bau !’’ perintaknya.
Pembantu itu segera membawa Raja Penyu ke pantai. Sekuat tenaga ia melempar Raja Penyu ke air laut. Betapa leganya Raja Penyu setelah tubuhnya menyentuh air laut. Ia segera berenang ke teluk, menjumpai rakyatnya.

Rakyat penyu sangan gembira melihat Raja Penyu mereka pulang. Berhari-hari mereka mengedakan pesta menyambut raja mereka yang cerdik itu.

Sabtu, 19 Desember 2009

LEGENDA PERI BULAN

LEGENDA PERI BULAN

Oleh Mila Nurhida


Wulan adalah seorang gadis desa yang miskin. Wajahnya agak suram, sebab ia menderita penyakit kulit di wajahnya. Orang-orang desa sering takut jika berpapasan denganya. Wulan akhirnya selalu menggunakan cadar.

Pada suatu malam, Wulan bermimpi bertemu dengan pangeran Rangga. Putra Raja itu terkenal dengan keramahannya dan ketampanannya. Wulan ingin berkenalan dengannya. Ia pun makin sering memimpikan Pangeran Rangga.

“Sudahlah, Wulan! Buang jauh-jauh mimpimu itu!“ kata Ibu Wulan, ketika melihat anaknya termangu di depan jendela kamar. “Ibu tidak bermaksud menyakiti hatimu. Kamu boleh menyukai siapa saja. Tapi Ibu tidak ingin akhirnya kamu kecewa,“ tutur Ibu Wulan lembut.

Sebenarnya Wulan juga sadar. Mimpinya terlalu tinggi. Orang-orang desa saja takut melihatnya, apalagi pangeran Rangga. Pikir Wulan.

Pada suatu malam, Wulan melihat pemandangan alam yang sangat indah. Bulan bersinar terang di langit. Cahayanya lembut keemasan. Di sekitarnya, tampak bintang-bintang yang berkelap-kelip. Malam itu begitu cerah.

“Sungguh cantik!“ gumam Wulan. Matanya takjub memandang ke arah bulan.
Tiba-tiba saja Wulan teringat pada sebuah dongeng tentang Dewi Bulan. Dewi itu tinggal di bulan. Ia sangat cantik dan baik hati. Ia sering turun ke bumi untuk menolong orang-orang yang kesusahan. Di desa Wulan, setiap ibu yang ingin mempunyai anak perempuan, selalu berharap anaknya seperti Dewi Bulan.

Dulu, ketika Wulan masih kecil, wajahnya pun secantik Dewi Bulan, menurut Ibu Wulan.
“Aku ingin memohon kepada Dewi Bulan agar aku bisa canti lagi seperti dulu. Tapi…, ah.., mana mungkin! Itu pasti hanya dongeng!” wulan segera menepis harapannya. Setelah puas menatap bulan, Wulan menutup rapat jendela kamarnya. Ia beranjak untuk tidur dengan hati sedih.

Wulan adalah gadis yang baik. Hatinya lembut dan suka menolong orang lain. Suatu sore, Wulan bersiap-siap pergi mengantarkan makanan untuk seorang nenek yang sedang sakit. Meski rumah nenek itu cukup jauh, Wulan rela menjenguknya.

Sepulang dari rumah si nenek, Wulan kemalaman di tengah perjalanan. Ia bingung karena keadaan jalan begitu gelap. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba, muncul ratusan kunang-kunang. Cahaya dari tubuh mereka begitu terang.

“Terima kasih kunang-kunang. Kalian telah menerangi jalanku!“ ucap Wulan lega.
Ia berjalan, dan terus berjalan. Namun, meski sudah cukup jauh berjalan. Wulan tidak juga sampai di rumahnya. Wulan tidak juga mememukan rumahnya.

“Kusara aku sudah tersesat!“ gumamnya panik. Ternyata para kunang-kunang telah mengarahkannya masuk ke dalam hutan.

“Jangan takut, Wulan! Kami membawamu kesini , agar wajahmu bisa disembuhkan,“ ujar seekor kunang-kunang.

“Kau?Kau bisa bicara?“ Wulan menatap heran seekor kunang-kunang yang paling besar.
“Kami adalah utusan Dewi Bulan,“ jelas kunang-kunang itu.

Wulan akhirnya tiba di tepi danau. Para kunang-kunang beterbangan menuju langit. Begitu kunang-kunang menghilang, perlahan-lahan awan hitam di langit menyibak. Keluarlah sinar bulan purnama yang terang benderang.

“Indah sekali!“ Wulan takjub. Keadaan di sekitar danau menjadi terang.
Wulan mengamati bayang-bayang bulan di atas air danau. Bayangan purnama itu begitu bulat sempurna. Tak lama kemudian, tepat dari bayangan bulan itu muncullah sosok perempuan berparas cantik.

“Si...siapa kau?“ tanya Wulan kaget.

“Akulah Dewi Bulan. Aku datang untuk menyembuhkan wajahmu,“ tutur Dewi Bulan lembut. “Selama ini kau telah mendapat ujian. Karena kebaikan hatimu, kau berhak menerima air kecantikan dariku. Usaplah wajahmu dengan air ini!“ lanjut Dewi Bulan sambil memberikan sebotol air.

Dengan tangan gemetar Wulan menerimanya. Perlahan-lahan Dewi Bulan masuk kembali ke dalam bayang-bayang bulan di permukaan air danau. Kemudian ia menghilang.
Wulan segera membasuh wajahnya dengan air pemberian Dewi Bulan. Malam itu, Wulan tertidur di tepi danau.

Akan tetapi, sungguh ajaib! Esok harinya. Ia telah berada di kamarnya sendiri lagi. Ketika bercermin, ia sangat gembira melihat kilit wajahnya telah halus lembut kembali seperti dulu. Ia telah canti kembali. Ibunya heran dan gembira.

“Bu, Dewi Bulan ternyata benar-benar ada!“ cerita Wulan.

Dengan cepat kecantikan paras Wulan tersebar kemana-mana. Bahkan sampai juga ke telinga Pangeran Rngga. Karena penasaran, Pangeran Rangga pun mecari Wulan. Keduanya akhirnya bisa bertemu. Wulan sangat gembisa bisa bersahabat dengan pangeran pujaan hatinya.

KISAH GOBY DI HARI MINGGU

KISAH GOBY DI HARI MINGGU
oleh Mila Nurhida

“Hei, kenapa mantelku belum selesai kamu jahit?” tanya Goby kurcaci, suatu pagi di hari Minggu.

“Aku sedang mengerjakan gaun Peri Bunga. Matelmu baru selesai dua hari lagi,“ sahut Ciko, si kurcaci penjahit.

Goby menggelengkan kepalanya. “Tidak bisa! Aku perlu hari ini juga. Nanti sore aku akan memakainya di pesta ulang tahun Golda.“

“Hm, baiklah,“ kata Ciko setelah berfikir sejenak. “Aku usahakan menyelesaikannya siang ini, tapi kamu harus membeyarnya 10 keping emas. Bukan 5 keping emas seperti biasanya. Bagaimana?“

“Huh, baiklah!“ Goby tak punya pilihan lain.

Goby pun kembali ke rumah jamurnya. Benar saja. Siang harinya Ciko mengantarkan mantel warna merah yang sudah selesai dijahit. Ciko tersenyum senang saat menerima sepuluh keping emas. Sementara Goby menggerutu karena harus membayar lebih mahal dari yang semestinya.

Hari Minggu menjelang sore. Goby menganakan mantel merah barunya, yang dipadu dengan celana dan baju warna hitam. Sepatunya merah lancip, dan mengkilap. Tetapi dia merasa ada sesuatu yang kurang dari penampilannya.

“Topi!” seru Goby. Ia pun segera mencari topi merah di dalam kotak topi-topinya. Topi merah tak juga ditemukannya. Yang ditemukannya hanya topi kuning, biru, hijau dan jingga. Tidak cocok dengan warna mantel dan sepatunya.

Goby kebingungan. Dia mencari sekali lagi di setiap pojok rumahnya, tapi topi merahnya seakan hilang. Karena hari sudah sore, Goby memutuskan membeli topi merah baru di kios topi seberang rumahnya.

‘’Cepatlah, aku perlu topi warna merah,’’ ujarnya terburu-buru. Moli si penjual topi tak segera menyodorkan topi yang diinginkan Goby.

‘’Topi warna merah hanya tinggal sebuah, tapi ini sudah dipesan oleh Toki. Dia akan segera mengambilnya,’’ kata Moli.

“Berapa harga topi itu?” Tanya Goby.

“Lima keeping emas,” jawab Moli.

“Aku berani bayar lebih,” kata Goby tak sabar.

“Bagaimana, ya.“ Moli menimbang-nimbang. “Begini saja. Topi merah untuk Toki bisa aku buatkan lagi besok. Tapi, sudah pasti aku akan dimarahinya. Oleh karena itu, kau harus bayar 10 keping emas untuk topi merah ini.“ Sesaat kemudian, Goby sudah berjalan menuju rumah Golda. Wajahnya tampak kesal karena harus membayar topi merah lebih mahal dari seharusnya.

Di tengah perjalanan, goby bertemmu dengan Zeto yang menenteng topi merah. Goby merasa mengenal dengan topi merah itu.

“Hei, bukankah itu topi merah milikku?“ tanya Goby.

“Betul, kemarin kan, kau menyuruhku menjahitnya, karena ujungnya sobek. Aku baru mau mengantarkannya ke rumahmu,“ jawab Zeto sambil menyerahkan topi itu. “Ongkosnya 3 keping emas,“ lanjut Zeto tersenyum. Goby pun segera membayarnya.

Goby melanjutkan perjalanannya. Dia tak habis pikir kenapa dia bisa lupa dengan topi merahnya yang robek itu.

Ketika hampir tiba di rumah Golda, Goby mampir ke kios buah-buahan. Ia berencana membelikan Golda hadiah ulang tahun sekeranjang srawberry seharga lima keping emas. Ternyata si penjual kehabisan srawberry.

“Hanya tinggal sekeranjang blueberry, harganya 10 keping emas.”
“Ya, sudah. Aku ambil blueberrynya,” kembali Goby membayar lebih mahal dari yang diinginkannya.

Tak lama kemudian Goby tiba dipekarangan rumah Golda. Goby mengerutkan dahinya, kenapa suasananya begitu sepi? Tak terdengar kemeriahan pesta ulang tahun dari dalam rumah itu. Pintu rumah Golda yang oval nampak tertutup. Jendela-jendelanya yang berbentuk bintang hanya terbuka sedikit.

Perlahan Goby menghampiri pintu rumah Golda. Tangan kanannya mengetuk pintu dengan ragu, hatinya merasa tak nyaman.

Pintu oval terbuka. Golda pun muncul hanya dengan pakaian rumah.
“Hai, Goby, masuklah. Aku sedang merangkai bunga,” ajak Golda.
“Mm...tapi... pesta ulang tahunmu, sore ini kan?“ tanya Goby terbata.
Golda terbelalak melihat dandanan Goby, dengan mantel merah dan topi barunya. Juga sekeranjang blueberry di tangnnya.

“Aduh, Goby. Kau kurang teliti membaca kartu undanganku. Ulang tahunku kan masih hari Minggu depan, bukan hari Minggu sekarang.“ Golda tak tak tahan menahan tawanya.
Tiba-tiba Goby merasa kepalanya pusing. Tubuhnya terhuyung-huyung, lalu jatuh pingsan dihadapan Golda.

KEMUNCULAN DAN PERKEMBANGAN USHUL FIQH


Ushul Fiqh muncul sebagai respon sekaligus solusi atas problematika yang terjadi di masanya. Dan, sebagai disilpin ilmu pengetahuan yang independen, ilmu ushul fiqh tidak hadir serta merta dalam bangunannya yang telah dianggap sempurna seperti saat ini, melainkan melewati beberapa fase; lahir, tumbuh, dan berkembang dalam beberapa periode.

Telah menjadi maklum adanya, bahwa pembahawan ushul fiqh adalah kaidah-kaidah bahasa Arab, implikasi-implikasinya, metodologi dedukasi hukum dari dalil-dalil tersebut saling berlawanan, serta pengetahuan tentang sifat-sifat seorang mujtahid.

Pada periode awal Islam, mengkaji dan mempelajari ushul fiqh masih belum terasa dibutuhkan. Karena , disamping para mujtahid waktu itu adalah orang-orang yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan berbahasa dan budaya Arab yang tentunya, pemahaman tentang kaidah-kaidah bahasa Arab bukan merupakan hal yang sulit, juga karena ajaran Islam pada waktu itu, belum tercampur kebudayaan dan peradaban luar. Sehingga kaidah ushuliah yang ada pada waktu itu, hanya dapat ditemukan dalam praktek mujtahid ketika berijtihad.

Sabtu, 12 Desember 2009

PRINSIP-PRINSIP SYARIAT (TASYRI’) DALAM AL-QURAN

PENDAHULUAN

Keistemewaan ajaran Islam daripada ajaran agama lainnya adalah sisi universalitasnya. Ajaran-ajaran samawi terdahulu, selalu ditujakan kepada kaum tertentu. Sedangkan ajaran Islam diturunkan untuk seluruh umat, baik manusia ataupun jin (kaffah li al-alamin). Telah dimaklumi, bahwa perundang-undangan manapun harus selaras dengan kondisi dan relevansi pihak yang dibebani undang-undang tersebut. Umat Nabi adam as bisa merasakan kelonggaran syari’at berupa kebolehan menikahi saudara sendiri, karena pada saat itu populasi manusia baru dari satu keturunan. Sedangkan umat Nabi Musa as harus merasakan ketatnya syariat, karena dalam menghadapi Bani Israel yang terkenal keras kepala, membutuhkan langkah-langkah preventif dengan menerapkan undang-undang yang sekiranya dapat membuat mereka jera. Sedangkan syari’at Nabi Muhammad saw (Islam) yang ditujukan untuk seluruh makhluk di dunia ini, baik manusia atau jin, tentunya harus membentuk undang-undang (syari’at) yang bisa diterima oleh semua kalangan. Untuk mewujudkan undang-undang tersebut, syari’at Islam memiliki prinsip-prinsip dasae agar dapat diterima oleh seluruh makhluk di segala zaman. Diantaranya:

A. Tidak Mempersulit (‘Adam al-Haraj)

Dalam menetapkan syariat Islam, al-Quran senantiasa memperhitungkan kemampuan manusia dalam melaksanaknnya. Itu diwujudkan dengan mamberikan kemudahan dan kelonggaran (tasamuh wa rukhsah) kepada mansusia, agar menerima ketetapan hukum dengan kesanggupan yang dimiliknya. Prinsip ini secara tegas disebutkan dalam a-Quran,


لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا ….


Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya… (QS. Al-Baqarah: 286)

Al-Yatibi mengatakan bahwa kesanggupan manusia merupakan syari’at hukum mutlak dalam menerima ketetapan hukum syari’at. Ketetapan hukum yang tidak terjangkau oleh kemampuan manusia -melihat prinsip ini- tidak sah ditetapkan kepada manusia. Hal ini telah menjadi kesepakatan mayoritas ulama, baik dari kalangan Mu’tazilah (rasionalis) maupun sebagian pengikut Asy’ariah (Sunni tradisionalis).

Dalam menetapkan hukum, Allah swt. Senantiasa memperhitungkan kemampuan manusia dan memperhitungkan manfaat dan madlarat yang mungkin ditimbulkan sebagai konsekwensi logis fari pelaksanannya. Karena itu, Abu al-A’la al-Maududi menyebutkan, “Allah membuat undang-undang syari’at untuk mengharamkan sesuatu atas manusia yang membawa ekses negatif (madlarat) dan menghalalkan sesuatu yang mendatangkan dampak positif (manfa’at).[2
]
Namun bukan berarti dalam al-Quran tidak ada ketetapan hukum yang sulit dalam pelaksanaannya. Sebab menurut al-Syatibi, hukum sendiri merupakan beban, sehingga kesulitan umum yang biasa dialami masyarakat, misalnya sulit mencari nafkah, tidak termasuk dalam kategori ‘adam al-haraj diatas. Karena kesulitan yang sifatnya seperti itu tidak lain timbul dari kemalasan atau belum adanya keberuntungan saja.

Disinilah pentingnya pembedaan antara musyaqqah (kesulitan) ditinjau dari kacamata syari’at dan musyaqqah menurut kebiasaan umum. Sebab musyaqqah versi masyarakat seringakli dijadikan dalih untuk meremehkan kewajiban agama, sikap mencari-cari kemudahan dalam bearamal.


B. Mengurangi Beban (Taqlil al-Taklif)

Prinsip kedua ini merupakan langkah prenventif (penanggulangan) terhadap mukallaf dari pengurangan atau penambahan dalam kewajiban agama. Al-Quran tidak memberikan hukum kepada mukallaf agar ia menambahi atau menguranginya, meskipun hal itu mungkin dianggap wajar menurut kacamata sosial. Hal ini guna memperingan dan menjaga nilai-nilai kemaslahatan manusia pada umumnya, agar tercipta suatu pelaksanaan hukum tanpa ddasari parasaan terbebani yang berujung pada kesulitan.

Umat manusia tidak diperintahkan untuk mencari-cari sesuatu yang justru akan memperberat diri sendiri. Allah swt. Berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ (١٠١)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya akan menyusahkan kalian....(QS. al-Maidah: 101)

Sebagian riwayat menjelaskan bahwa kronologi turunnya ayat ini adalah ketika Nabi sedang berpidato di hadapan umatnya, tiba-tiba seorang diantara mereka bertanya, “Siapakah bapakku?”. “Si Fulan!” Jawab Nabi. Ada pula yang bertanya, “Siapakah nama ayahku?” atau “Di mana untaku?” kemudian turunlah ayat di atas sebagai teguran atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu. Bahkan mungkin bisa menyusahkan si penanya sendiri. Karena, jawaban yang akan ia terima merupakan baban dari si penanya sendiri. Padahal prinsip agama adalah pengurangan terhadap beban. (taqlil al-taklif).

Dengan demikian dapat dipahami bahwa Nabi ketika menerima ayat al-Quran menafsirkan sesuai kebutuhan masyarakat pada saat tiu. Sedangkan yang tidak dibutuhkan didiamkan saja, dengan maksud nantinya ayat-ayat tersebut dapat ditafsiri sesuai dengan kondisi dan situasi yang terjadi di masyarakat pada masa yang akan datang. Prinsip ini telah disebutkan dalam hadits, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan beberapa kewajiban, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya. Dan dia telah menetapkan ketentuan-ketentuan, maka janganlah kalian melampauinya. Dia juga telah mengharamkan beberapa hal, maka janganlah kalian merusaknya, serta telah mendiamkan beberapa hal sebagai rahmat buat kalian, bukan karena lupa, maka janganlah kalian membicaraknnya.”

C. Penetapan Hukum secara Periodik

Al-quran merupakan kitab suci yang dalam prosesi tasri’ sangat memperhatikan berbagai aspek, baik natural, spiritual, kultural, maupun sosial uamt. Dalam menetapkan hukum, al-Quran selalu mempertimbangkan, apakah mental spiritual manusia telah siap untuk menerima ketentuan yang akan dibebankan kepadanya?. Hal ini terkait erat dengan prinsip kesua, yakni tidak memberatkan umat. Karena itulah, hukum syariat dalam al-Quran tidak diturunkan secara serta merta dengan format yang final, melainkan secara bertahap, dengan maksud agar umat tidak merasa terkejut dengan syariat yang tiba-tiba. Karenanya, wahyu al-Quran senantiasa turun sesuai dengan kondisi dan realita yang terjadi pada waktu itu. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan kami kemukakan tiga periode tasryi’ al-Quran;

Pertama, mendiamkan, yakni ketika al-Quran hendak melarang sesuatu, maka sebelumnya tidak menetapkan hukum apa-apa tapi memberikan contoh yang sebaliknya. Sebagai contoh, untuk menetapkan keharaman minuman khamr. Sebagai langkah pertama, yang dilakukan syari’ (Nabi Muhammaf saw) adalah mendiamkan kebiasaan buruk, akan tetapi Nabi sendiri menghindarinya.

Kedua, menyinggung manfat ataupun madlaratnya secara global. Dalam contoh khamr di atas, sebagai langkah kedua, turun ayat yang menerangkan tentang manfaat dan madlarat minum khamr. Dalam ayat tersebut, Allah menunjukkan bahwa efek sampingnya lbih besar daripada kemanfaatannya (QS. Al-Baqarah: 219) yang kemudian segera disusul dengan menyinggung efek khamr bagi pelaksanaan ibadah (al-Nisa: 43)

Ketiga, menetapkan hukum tegas. Dalam contoh tersebut, Syari’ (Allah dan Rasul-Nya) menetapkan hukum haram minum khamr secara tegas, sebagai langkah yang paling akhir (QS.al-Maidah: 90)

Demikian juga dalam menetapkan hukum yang bersifat perintah. Kewajiban shalat misalnya. Tahap pertama terjadi permulaan Islam (di Mekah), di saat umat Islam banyak menuai siksaan dan penindasan dari penduduk Mekah, kewajiban shalat hanya dua raka’at, yaitu pada pagi dan sore. Itu pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kahawatir terjadi penghinaan yang semakin menjadi-jadi dari suku Qurasy. Sebagaimana disebutkan dalam surat Qaf: 39

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ (٣٩)

“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah (shalatlah) sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya)”

Lalu surat al-Mu’min: 55

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالإبْكَارِ (٥٥)

“Maka bersabarlah kamu, karena Sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah (shalatlah) seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi”

Ketika penderitaan umat telah menyurut dengan dicabutnya pemboikotan atas Bani Hasyim, dumulailah tahap kedua pelaksanaan shalat. Hal itu dimulai setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj dimana Nabi membawa perintah dari Allah swt. Untuk melaksanakan shalat lima waktu. Dalam hal ini Nabi bersabda, “Pada Malam Isra’ Allah swt, mewajibkan kepada umatku lima puluh shalat. Tak henti-hentinya aku meminta keringanan, hingga kemudian kewajiban itu menjadi lima (kali) dalam sehari semalam.

Perintah dalam ayat tersebut kemudian dijabarkan secara jelas oleh Nabi sebagai kewajiban shalat lima waktu, sebagaimana perintah Nabi ketika mengutus Mu’adz ibn Jabal ke Yaman, “Kabarkan kepada mereka (penduduk Yaman), bahwasannya Allah swt telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam.” Akkhirnya ketika umat Islam telah mulai merasakan ketenangan di negeri baru mereka, Madinah, turunlah kewajiban-kewajiban yang sifatnya lebih terperinci, yaitu dimulai dengan syarat-syarat shalat berupa wudlu dan tayamum (QS. Al-Maidah: 6), serta rukun-rukn (teknis) pelaksanaan shalat. Teknis pelaksanaan shalat sendiri merupakan cara yang diajarkan oleh Nabi saw. Beliau bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.

D. Sejalan dengan Kemaslahatan Universal

Manusia adalah obyek dan subyek legislasi hukum al-Quran. Seluruh hukum yang terdapat dalam al-Quran diperuntukkan demi kepentingan dan perbaikan kehidupan umat, baik mengenai jiwa, akal, keturunan, gama, maupun pengelolaan harta benda, sehingga penerapan hukumnya al-Quran senantiasa memperhitungkan lima kemaslahatan, di situlah terdapat syariat Islam.

Islam bukan hanya doktrin belaka yang identik dengan pembebanan, tetapi juga ajaran yang bertujuan untuk menyejahterakan manusia. Karenanya, segala sesuatu yang ada di mayapada ini merupakan fasilitas yang berguna bagi manusia dalam memenuhi kebutuhannya. ‘Abd al-Wahab Khalaf berkata, “Dalam membentuk hukum, Syari’ (Allah dan Rasul-Nya) selalu membuat illat (ratio logis) yang berkaitan dengan kemaslahatan manusia, juga menunjukkan bebrapa buktu bahwa tujuan legislasi hukum tersebut untuk mewujudkan kemaslahatan manusia. Di samping itu, Syar’I menetapkan hukum-hukum itu sejalan dengan tiadanya illat yang mengiringinya. Oleh karena itu, Allah mensyariatkan sebagian hukum kemudian merevisinya karena ada kemaslahatan yang sebanding dengan hukum tersebut.

E. Persamaan dan Keadilan (al-Musawah wa al-Adalah)

Persamaan hak di muka adalah salah satu prinsip utama syariat Islam, baik yang berkaitan dengan ibadah atau muamalah. Persamaan hak tersebut tidak hanya berlaku bagi umat Islam, tatpi juga bagi seluruh agama. Mereka diberi hak untuk memutuskan hukum sesuai dengan ajaran masing-masing, kecuali kalau mereka dengan sukarela meminta keputusan hukum sesuai hukum Islam.

Penyamarataan hak di atas berimplikasi pada keadilan yang seringakli didengungkan al-Quran dalam menetapkan hukum,

وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ…

… Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, supaya kamu menetapkan dengan adil.... (QS. Al-Nisa: 58)

Prinsip persamaan hak dan keadilan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam menetapkan hukum Islam. Keduanya harus diwujudkan demi pemeliharaan martabat manusia (basyariyah insaniyah)
.

Kamis, 10 Desember 2009

Tafsir Al-Qurtubi, AL-JAMI’ LI AHKAM AL-QURAN

PENDAHULUAN


Al-Quran menyebut dirinya sebagai Hudan li al-nas,petunjuk bagi segenap uamt manusia. Akan tetapi petunjuk al-Quran tersebut tidaklah dapat ditangkap maknanya bila tanpa adanya penafsiran. Itulah sebabnya sejak al-Quran diwahyukan hingga dewasa ini gerakan penafsiran yang dilakukan oleh para ulama tidak pernah ada henti-hnetinya. Hal ini terbukti dengan banyaknya karya-karya para ulama yang dipersembahkan guna menyingkap dan menguak rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya dengan menggunakan metode dan sudut pandang berlainan.
Tafsir bisa diartikan dengan al-iddah wa al-tabyin, menjelaskan dan menerangkan, atau lebih lengkapnya adalah suatu ilmu yang dengannya kitab Allah dapat dipahami, mengeluarkan makna-maknanya dan mengeluarkan hukum-hukum serta hikmah-hikmahnya. Dapat juga diartikan dengan ilmu yang membahas al-Quran al-Karim dari segi dalalahnya sejalan dengan apa yang dikehendaki Allah, dalam batas kemampuan manusia. Dengan demikan, tafsir secara sederhana dapat dipahami sebagai usaha manusia dalam memahami al-Quran.
Salah satu dari sekian banyak tafsir yang ada adalah tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Quran karya al-Qurtubi, yang dikenal dengan Tafsir al-Qurtubi.

PEMBAHASAN
AL-JAMI’ LI AHKAM AL-QURAN KARYA AL-QURTUBI

A. Biografi Singkat al-Qurtubi
Penulis tafsir al-Qurtubi bernama Abu ‘Abd Allah Ibn Ahmad Ibn Abu Bakr Ibnfarh al-Anshari al-Khazraji Syamsy al-Din al-Qurtubi al-Maliki. Penulis belum menemukan referensi mengenai tahun kelahirannya, kebanyakan dari para penulis biografis hanya menyebutkan tahun kematiannya yaitu 671 H di kota Maniyya Ibn Hisab Andalusia. Ia dianggap sebagai salah seorang tokoh yang bermazhab Maliki.
Aktifitasnya dalam mencari ilmu ia jalani dengan serius di bawah bimbingan ulama yang ternama pada saat itu, diantaranya adalah al-Syaikh Abu al-Abbas Ibn ‘Umar al-Qurtubi dan Abu Ali al-Hasan Ibn Muhammad al-Bakri. Beberapa karya penting yang dihasilkan oleh al-Qurtubi adalah al-Jami’ li Ahkam al-Quran, al-Asna fi Syarh Asma Allah al-husna, Kitab al-Tazkirah bi Umar al-Akhirah, Syarh al-Taqassi,Kitab al-Tizkar fi Afdal al-Azkar, Qamh al-Haris bi al-Zuhd wa al-Qana’ah dan Arjuzah Jumi’a Fiha Asma al-Nabi.

B. Kitab al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an

1. Pengenalan Umum Kitab Tafsir Qurtubi

Kitab tafsir ini sering disebut dengan tafsir al-Qurtubi, hal ini dapat dipahami karena tafsir ini adalah karya seorang yang mempunyai nisbh nama al-Qurtubi atau bisa juga karena dalam halaman sampul kitabnya sendiri tertulis judul, tafsir al-Qurtubi al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an. Jadi, tidak sepenuhnya salah apabila seseorang menyebut tafsir ini dengan sebutan tafsir al-Qurtubi bila yang dimaksud adalah tafsir karya al-Qurtubi tersebut. Judul lengkap tafsir ini adalah al-Jami’ li Ahkam al-Quran wa al Mubayyin lima Tadammanah min al-Sunnah wa Ay al-Furqan yang berarti kitab ini berisi himpunan hukum-hukum al-Quran dan penjelasan terhadap isi kandungannya dari al-Sunnah dan ayat-ayat al-Quran. Dalam muqaddimahnya penamaan kitab ini didahului dengan kalimat Sammaitu….(aku namakan)[1]. Dengan demikian dapat dipahami bahwa judul tafsir ini adalah asli dari pengarangnya sendiri.

2. Sistematika

Dalam penulisan kitab tafsir dikenal adanya kitab tiga sistematika:
Pertama, sitematika Mushafi yaitu penyusunan kitab tafsir dengan berpedoman pada tertib susunan ayat-ayat dan surat-surat dalam mushaf, dengan dimulai dari al-Fatihah, al-Baqarah dan seterusnya sampai surat al-Nas.
Kedua, sitematika Nuzul yaitu dalam menafsirkan al-Quran berdasarkan kronologis turunnya surat-surat al-Quran, contoh mufasir yang memakai sistematika ini adalah Muhammad ‘Izzah Darwazah dengn tafsirnya yang berjudul al-Tafsir al-Hadits.
Ketiga, sistematika maudlu’I yaitu menfsirkan al-Quran berdasarkan topik-topik tertentu dengan topic tertentu kemudin ditafsirkan.
Al-Qurtubi dalam menulis kitab tafsirnya memulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas, dengan demikian ia memakai sistematika mushafi, yaitu dalam menafsirkan al-Quran sesuai dengan urutan ayat dan surat yang terdapat dalam mushaf.[2]