Senin, 22 Maret 2010

Kajian surat al-Mudatsir

Pendahuluan
Al-Walid Ibn al-Mughirah, seorang tokoh sastrawan Arab, setelah mendengar sendiri bacaan al-Quran dari Nabi Muhammad saw merasa sangat terpesona dan menyatakan, bahwa bacaan al-Quran tersebut sangatlah indah dan tak mungkin ada orang yang mampu menandinginya. Dari ini tampak bahwa al-Walid sudah akan memeluk agama Islam, namun dengan cepat Abu Jahal mengancam dan melarangnya, sehingga turunlah surat al-Muddatsir ayat 11.
Memang terdapat dua riwayat tentang peristiwa menjelang turunnya surat al-Muddatsir ini, khususnya untuk ayat 1-7, namun kisahnya menjadi satu-kesatuan yang saling mendukung, sebagaimana halla dengan kisah yang melatarbelakangi turunnya surat al-Muzammil.


Tema dan Kandunga nSurat al-Muddatsir
Ketika Rasulullah saw pulang dari gua Hira, beliau mendengar sesuatu dan mencarinya, namun tak dijumpainya, maka dengan segera beliau meminta isterinya untuk menutupinya dengan selimut. Kemudian turunlah surat al-Muddatsir dan al-Muzammil, yang secara singkat dapat diungkap sebagai berikut:
A. Allah menyuruh Nabi Muhammad saw agar melepaskan selimutnya dan bergegas menyerukan dakwah Islam, mengajak manusia untuk masuk Islam, khusunya untuk melaksanakan hal-hal berikut:
- mengagungkan nama Allah.
- Mensucikan diri lahir dan batin.
- Menjauhi perbuatan dosa dan noda.
- Memperbanyak sedekah, serta tak mengharapkan balasan atasnya.
- Memperteguh tekad hati, bermental baja, serta tidak berputus asa dalam mengabdi dan menyembah Allah Ta’ala (ayat 1-7)
B. hari Kiamat merupakan saat yang sulit, khusunya bagi orang-orang kafir. Maka biarkanlah mereka sibuk menumpuk harta, membanggakan anak dan keturunannya seraya menentang ajaran Islam dan munudh Nabi saw sebagai tukang sihir. Dan sesungguhnya mereka itu akan dimasukkan ke dalam neraka saqar (ayat 8-29)
C. adapun neraka itu dijaga oleh 19 malaikat, maka angka ini menjadi suatu ujian bagi orang-orang kafir, dan agar orang-orang ahli kitab menjadi yakin serta orang yang beriman makin bertambah tebal keimanannya (ayat 30-31).
D. Sesungguhnya peredaran benda-benda angkasa di malam ini telah menjadi peringatan bagi manusia, bahwa setiap insane itu tidak akan dapat terbebas dari cacatan amal perbuatan selama hidupnya, dan sesungguhnya siapa yang suci dari dosa, maka dia akan memperoleh kebahagiaan di surga, sedangkan orang-orang yang tidak mau melaksankan shalat serta tidak mau beramal shalih dan mereka mengucapkan kata-kata kotor serta mendustakan agama, maka sesungguhnya mereka itu akan masuk ke dalam neraka saqar (ayat 32-48)
E. Sesungguhnya orang-orang kafir memiliki sifat keras kepala serta tak takut akan azab akhirat, maka sesungguhnya mereka itu sangat sesat dan jauh dari tuntunan agama. Namun bagaimanapun juga orang yang mau menerimanya. Dan tak akan mau menirama ajaran al-Quran, kecuali orang-orang yang bertaqwa dan beristighfar (ayat49-56)
Renungan
Setelah memperhatikan kandungan al-Quran surat 74 ayat 1-56, maka timbul beberapa renungan, yakni:
a. Masalah
1) Bagaimana situasi dan kondisi masyarakat pada saat itu?
2) Dengan kondisi dan situasi yang demikian, bagaimanakah metode dakwah yang dilaksanakan oleh Rasulullah?
b. Tafsir dan Analisa
Allah selalu mengirim rasul kepada tiap-tiap umat, sejak Nabi Adam as. Sampai Nabi Muhammad saw (lihat surat Yunus ayat 47, surat al-Nahl ayat 36, surat Fathir ayat 24). Adapun sebelum diutunya Nabi Muhammad saw, maka terjadilah “fatratun minar rasul”, maksudnya masa yang kosong dari rasul, sebagaiman disebutkan dalam surat al-maidah ayat 19.
Dan pada masa lalu telah datang beberapa orang nabi dan rasul yang waktunya hamper dan bahkan bersamaan, seperti Nabi Musa dan Nabi Harun, Nabi dawud dengan Nabi Sulaiman, Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail, dan Nabi Zakariya dengan Nabi Isa.
Setelah kurang lebih 571 tahun manusia mengalami masa kekosongan dari keberadaan nabi dan rasul, khususnya masyarakat Arab, maka diutuslah Rasulullah saw. Adapun bangsa Arab, pada dasarnya mereka mengikuti ajaran Nabi Ibrahim, tetapi setelah ditinggal Nabi Ibrahim sedemikian lamanya, maka bangsa itu makin lama makin menyimpang dari ajaran Ilahi. Dan sebelum datangnya Nabi Muhammad saw, bangsa Arab mengalami suatu masa yang disebut “Jahiliyah”
Manurut bahasa, Jahiliyah berarti kebodohan, namun secara istilah, menut=rut ahmad Amin Jahiliyah berarti suatu sikap mental yang enggan untuk berlapang dada. Sehingga pada orang yang bersangkutan sering melakukan tindakan sebagaimana orang yang bodoh, misalnya berlaku sombong, cepat marah, suka bermusuhan, keras kepala dan sebagainya.
Pada masa jahiliyah, masyarakat Arab memiliki suatu kepercayaan dan kebebasan yang sangat bertentangan dengan kehendak Allah swt, seperti menyembah berhala, melakukan perbudakan, memandang rendah kaum wanita, gemar melakukan peperangan antar suku, gemar berjudi dan minum minuman keras, percaya pada tahayul dan khurafat serta melakukan berbagai kemungkaran lainnya. Namun, meskupun zaman Jahiliyah terkenal dengan berbuatan yang jelek , toh sebenarnya masa itu terdapat beberapa kepercayaan dan kebiasaan yang baik, seperti menghormati bulan-bulan haram, menghormati Ka’bah, melakukan haji, bermurah hati dalam menghormati tamu dan lain-lain.
c. Metode dakwah
Rasulullah saw dalam melaksanakan dakwa benar-benar mengikuti petunjuk Tuhan, yaitu berdasarkan proses turunnya wahyu, sehingga dakwah itu selalu tepat dan sesuai dengan situasi serta kondisi yang ada. Dimana dakwah itu disesuaikan menurut kemampuan si penerima, dan dakwah itu dilakukan dengan sangat hati-hati sedikit demi sedikit, sebab masyarakat Arab saat itu masih sangat terbelenggu oleh kepercayaan dan kebiasan Jahiliyah.
Aisyah ra berkata:
Sesungguhnya yang pertama kali turun ialah surat-surat al-Mufashshal, yang menyebutkan tentang surga dan neraka, dan ketika orang-orang telah kuat keislamannya, maka turunlah ayat-ayat tentang halal dan haram. Dan seandainya ayat yang pertama kali turun berbunyi: “Janganlah kamu minum minuman keras!”, pasti mereka akan menjawab, “Kami tidak akan meninggalkan minuman keras itu selama-lamanya”. Dan seandainya ayat yang pertama kali turun berbunyi: “Janganlah kamu berzina!”, pasti mereka akan berkata, “Kami tidak akan meninggalkan zina itu selama-lamanya”.(HR. Bukhari)
Muhammad Abu Zahrah menyatakan, bahwa al-Quran yang turun ketika Nabi Mumamad saw di Makkah atau pada masa sebelum hijrah, hamper semuanya berkenaan dengan masalah aqidah dan akhlak. Sedangakn ayat-ayat al-Quran yang turun setelah beliau berhijrah ke Madinah, berisi masalah hukum, politik, kenegaraan, kerumah-tanggaan, kemasyarakatan, perjanjian perdamaian serta hal-hal lain yang serupa
Kita lihat bahwa al-Quran turun secara berangsur-angsur, seperti turunnya al-‘Alaq ayat 1-5, surat an-Nur 11-21, surat al-Mu’min 1-10, kadangkala sepotong ayat saja sebagaimana yang tercakup dalam surat al-Nisa’ 95 dan adakalanya juga satu surat secara lengkap, seperti surat Yusuf. Dan secara keseluruhan, menurut perhitungan Syaikh Khudari, al-Quran diturunkan selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Semua itu membuktikan bahwa dakwah yang ditempuh oleh Nabi berangsur-angsur sesuai dengan kemampuan akal dan perasaan penerimanya, dari ajaran yang paling ringan hingga yang sempurna.
d. Perkembangan social masyarkat Arab
Melihat cara dakwah Rasulullah yang bijaksana itu, maka tercatatlah perkembangan orang-orang yang memeluk agama Islam, yaitu sebagai berikut:
- Thun pertama Bi’tsah (masa diutusnya Rasulullah saw), telah masuk Islam: Khadijah, Waraqah, Abu Bakar, Zaid, Bilal dan Salman.
- Tahun kelima hingga ketujuh Bi’tsah, orang yang telah masuk Islam serta hijrah ke Abessina yang pertama kali adalah 14 orang, dan mereka termasuk orang-orang yang jiwa Islamnya sangat militant.
- Waktu hijrah Abessina kedua, jumlah mereka yang turut serta adalah 48 orang.
- Tahun kedua belas hingga ketiga belas Bi’tsah, terjadi bai’at ‘Aqabah I yang diikuti 12 orang.
- Pada bai’at ‘Aqabah kedua yang turut serta dalam bai’at berjumlah 70 orang.
- Pada tahun Hijrah pertama, yang turut hijrah ke Madinah berjumlah lebih dari 200 orang.
- Tahun kedua hingga ketiga Hijrah, sejumlah 313 orang pasukan Islam telah mengalahkan 950 orang pasukan kafir Makkah.
- Tahun ketiga Hijrah, dalam perang Uhud, tentara kafir berjumlah 3000 orang tak mampu mengalahkan pasukan Islam yang berjumlah 700 orang personil.
- Tahun kedelapan hingga kesepuluh Hijrah, pasukan Islam sebanyak 10.000 orang telah berhasil menaklukan kota Makkah dan mengalahkan pasukan kafir.
- Tahun kesepuluh Hijrah, dalam perang Hunain, pasukan Islam berjumlah 12.000 orang personil.
- Pada tahun yang sama, dalam perang Tabuk, pasukan Islam berjumlah 30.000 orang personil.
- Pada tahun kesebelas Hijrah, yang mengikuti haji wada’ bersama Rasulullah saw adalah 90.000 sahabat.
- Menjelang Rasulullah wafat, jumlah sahabat yang pernah mendengar, melihat atau turut meriwayatkan hadits dari beliau jumlahnya tak kurang dari 114.000 orang.
- Dan Rasulullah saw wafat pada tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun sebelas Hijrah, yang bertepatan dengan tanggal 7 Juni 632 M. dari gambaran tersebut, jelas telah terjadi suatu perubahan social yang sangat drastic, yaitu dari masyarakat yang sangat menentang dakwah Islam menjadi suatu masyarakat yang sangat Ideal dan menjadi umat percontohan bagi para arsitek yang hendak membangun masyarakat Islam sepanjang masa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar